Home‎ > ‎Anak Jalanan‎ > ‎Kliping Media Massa‎ > ‎

Dilema Anak Jalanan

Kekerasan, eksploitasi ekonomi, hingga kekerasan seksual berupa pemerkosaan atau sodomi mengintai anak jalanan.Ata gadis berusia 12 tahun itu belingsatan. Sambil mengambil jemuran pakaian di depan rumah, matanya tajam menatap setiap orang di sekelilingnya. Dua bola matanya yang berair itu dengan cepat bergerak ke sana kemari. Tanpa lelah, seolah-olah ia mesti mewaspadai sesuatu yang mengancamnya setiap saat.

Yani-begitu namanya-sekilas tampak bak seorang pria. Jalannya seperti anak laki-laki. Gayanya macho, apalagi rambutnya dipotong pendek dan tipis. Di belakang kepala ada barut sehingga tak ditumbuhi rambut.Gadis cilik berkulit kuning langsat itu sebenarnya berparas cantik. Matanya hitam " besar, dan hidungnya mancung. Tapi noda-noda hitam yang tersebar di mukanya, dan bekas luka yang telah mengering, menghapus keayuannya.

Entah tragedi apa yang menimpa Yani, hingga ia tidak seperti gadis sebayanya. Perilakunya aneh. Sering berdiam diri. Kadang ia tampak pemalu dan ketakutan. Tapi . tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi agresif. Tanpa bersuara, ia menangis, hanya air matanya yang terus meleleh. Jika marah, ia berlarian dan berjalan ke sana kemari.

Yani tinggal di markas Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) di Tegalsari, Surabaya, Jawa Timur, sejak Februari 2009. Ia di situ setelah dirazia petugas dari Stasiun Kereta Api Gubeng, yang sebelumnya ditempatkan di Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) Surabaya.

Liposos adalah tempat penampungan bagi anak jalanangelandangan, dan orang sakit jiwa yang dirazia pemerintah kota setempat. Setelah sekian lama tidak ada keluarga yang mengambil Yani, pengurus Liposos kemudian mempersilakan SRMI untuk membawanya.

"Bandung," kata Yani saat ditanyai dari mana asalnya, sekian lama setelah ia berdiam diri. Bandung mana? "Cicaheum," jawabnya terbata-bata. Naik apa? "Kereta," jawabnya. Sama siapa? Tengamen."

Mamanya di mana? "Kerja," katanya. Apakah tidak ingin pulang ke Bandung? "Tidak," jawabnya. Kenapa? Tapa (suka) mukul," ujarnya. Mana yang dipukul? Dipukul pakai apa? Mendengar pertanyaan ini, Yani yang sedang duduk kemudian bergeser mundur.

Ia mendadak diam tak mau menjawab pertanyaan. Matanya mendelik. Tampak marah. Beberapa saat kemudian ia berlari ke luar ruangan. Kemarahan Yani mereda setelah ia mendapat sebungkus kacang kulit Kadang Yani masih nyambung saat diajak mengobrol, tapi terkadang tidak sama sekali.

Melalui Agus, salah satu pengasuh di SRMI, Yani sebelumnya mengaku pernah mendapat pelecehan seksual. Suatu hariYa-ni tiba-tiba mengatakan pernah berhubungan badan. Dia mengatakannya melalui isyarat dengan tangannya. Dua jari tangan kirinya membentuk lingkaran, lalu telunjuk tangan kanan dimasukkan ke lingkaran itu berulang-ulang.

Saat ditanyai siapa yang melakukan,Yani menjawab, "Orang bertopi, pakai semprit dan bawa tongkat." Jumlah pelakunya tiga orang.

Pemerkosaan, inilah alasan yang menyebabkan Yani sangat ketakutan jika ada orang bertopi yang bertandang ke markas SRMI. Ia tiba-tiba menggigit ujung bajunya terus-menerus, dan tubuhnya menggigil.

Kekerasan terhadap anak jalanan, seperti diberitakan di media dalam dua pekan

ini, kembali menggencarkan masyarakat. Kasus sodomi disertai pembunuhan dengan cara mutilasi terjadi terhadap Ardiansyah,

10 tahun. Anak jalanan ini ditemukan tewas dengan anggota tubuh terpisah menjadi beberapa potongan.

Kemudian terungkap pelakunya bernama Baekuni alasi Babe, pedagang rokok di kawasan Terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Sebelum dipotong-potong, mayat Ardiansyah disodomi Babe terlebih dulu. Dari penyelidikan, Babe mengaku telah melakukan tindakan serupa tak kurang dari 10 kali.

Pada saat bersamaan, seperti ditulis Koran Tempo edisi 13 Januari, Kepolisian Resor Jakarta Utara mengungkap adanya kasus sodomi yang menimpa 14 anak jalanan. Pelakunya, yang berinisial APS alias Abang Kacamata, 24 tahun, warga Jalan Tembok Bolong, Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara, ditangkap Selasa pekan lalu.

Kasus ini terungkap berdasarkan laporan keluarga salah satu korban berinisial DP,

11 tahun, warga Tugu Selatan. Pelaku yang bekerja sebagai kondektur Metromini ini mencari mangsa anak-anak jalanan dengan kisaran usia 10-14 tahun. Modusnya, mengajak korban jalan-jalan dan berenang di kolam renang Rawa Badak Utara.

Peristiwa di atas hanya sedikit cerita betapa kerasnya kehidupan anak jalanan. Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi sekarang. "Sering terjadi," kata Arist kepada Tempo di kantornya, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin lalu.

Anak jalanan, menurut Arist, rentan akan ancaman bahaya. Misalnya, kekerasan, eksploitasi ekonomi, hingga pelecehan seksual berupa pemerkosaan atau sodomi.

Agusman, Ketua Yayasan Balarenik, sebuah rumah singgah untuk anak jalanan di Penggilingan, Jakarta Timur, mengatakan ada tiga jenis anak jalanan, yakni anak yang hidup di jalan, anak yang bekerja di jalan, dan anak yang berpotensi menjadi anak jalanan.

"Ancaman paling besar tentunya terhadap anak yang hidup di jalan," kata Agusman, Kamis lalu. Anak yang hidup di jalan menghabiskan waktunya selama 24 jam di jalan. Mereka tidak pernah pulang ke rumah. Tidur di stasiun kereta, terminal, halte, atau pasar.

Kelompok anak yang bekerja di jalan relatif, lebih aman. Mereka punya tempat tinggal, baik berkelompok maupun bersama orang tua. Selama beberapa waktu dalam satu hari, mereka pulang. Karena tidak penuh berada di jalan, mereka bisa saling mengontrol satu sama lain. Tapi, karena kebersamaan ini pula, gampang sekali mereka tergerak berperilaku negatif, seperti mela-
kukan pencurian, judi, atau seks bebas.

Kelompok ketiga adalah anak yang rentan menjadi anak jalanan. Anak-anak dalam kelompok ini umumnya masih bersekolah dan punya orang tua. Tapi mereka bisa saja terseret ke pergaulan jalanan karena pengaruh kuat dari teman. Meninggalkan rumah dan sekolah, dan memilih berkeliaran di jalan.

"Karena, di jalan mungkin lebih memberikan kebebasan dan kesenangan," Agusman memaparkan.

Potensi ini akan semakin besar ketika ada hubungan ketidakharmonisan di dalam rumah, seperti perceraian orang tua atau kekerasan dalam rumah tangga. . Jumlah anak jalanan pun, menurut Agusman, meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatannya rata-rata sebesar 30 persen setiap tahunnya. "Peningkatan besar akan terjadi ketika ekonomi dirasakan memberatkan rakyat," kata Agusman.

Dia mengilustrasikan, saat krisis ekonomi 1998 merupakan masa-masa membeludaknya jumlah anak jalanan. Di Jakarta saja jumlahnya mencapai 10 ribu anak. Jumlah ini sempat menurun saat perekonomian perlahan-lahan membaik. Pada 2004 jumlah anak jalanan di Jakarta sekitar 4.000 hingga 5.000

Pada 2009, Agusman menyebutkan jumlah anak jalanan di Jakarta saja mencapai 10 ribu. Sedangkan di Bogor, Tangerang, dan Bekasi, saat ini terdapat 2.100 anak jalanan. Sementara itu, Arist menyebutkan di seluruh Indonesia terdapat tak kurang dari 108 ribu anak jalanan yang tersebar di 12 kota.

Sementara itu, data terbaru Departemen Sosial (2008), seperti yang diungkapkan oleh Direktur Pelayanan Anak Harry Hikmat, terdapat sekitar 240 ribu anak jalanan di 33 provinsi di Indonesia. Angka itu naik sekitar 12,5 persen dibanding dua tahun sebelumnya, yaitu 192 ribu.

Adapun data pada 1997 menunjukkan jumlah anak jalanan 90 ribu. "Ini menunjukkan adanya peningkatan cukup tajam dalam dua atau tiga tahun belakangan ini," kata Harry.

Nasib anak jalanan tersebut jelas tak menentu, bahkan rentan akan ancaman bahaya, (lihat Bahaya Mengintai Anak Jalanan). Beruntung ada beberapa lembaga swadaya masyarakat yang aktif melakukan pendekatan sosial. Melalui rumah singgah, misalnya, mereka menyediakan sarana dan prasarana agar anak jalanan mendapat perlakuan semestinya.

Yayasan Balarenik, yang dikelola Agusman, adalah salah satu rumah singgah yang menampung anak-anak jalanan di Pulogadung. "Tujuannya, mengurangi aktivitas anak ini di jalanan," kata Agus. Di rumah singgah, anak-anak jalanan itu

dibekali dengan berbagai keterampilan, sesuai dengan keahliannya. Umumnya menyanyi dan bermain musik.

Agusman mengaku tidak bisa menarik semua anak ke rumah singgah yang ia kelola. Dari 50 anak jalanan di Pulogadung, hanya 20 atau 30 persennya yang bisa dirangkulnya. Selebihnya, memilih tetap berada di jalan. Tak jarang sebagian anak jalanan itu ikut bersama orang seperti Baekuni.

Departemen Sosial, menurut Harry, masih mencoba mencari jalan keluar yang paling tepat untuk menangani masalah anak jalanan. Harry menjelaskan, sebenarnya kasus kekerasan terhadap anak jalanan, seperti yang baru-baru ini terkuak, bukan merupakan barang baru.

"Hal itu bisa terjadi mengingat jumlah anak jalanan terus meningkat setiap tahunnya," kata Harry. Harry menambahkan, pihaknya baru melakukan upaya perlindungan anak jalanan secara intensif sejak 2009. "Sebelumnya, ada program rumah singgah. Kini kami mencoba memperkuat keluarga dan komunitas yang ada di sekitar anak jalanan itu," katanya.

Kesulitan juga dialami oleh Yayasan Balarenik, ihwal masalah kekerasan terhadap anak jalanan. "Anak-anak cenderung tertutup kalau ditanyai hal-hal yang sifatnya pribadi," kata Agusman.


Comments